Kamis, 07 Mei 2015

Ana Uhubukifillah.


Aku beruntung, teman.
Memiliki mu yang slama ini kunanti dalam doaku
Jutaan detik tlah tertinggal tanpa
Tinta yang slama ini hanya tercoret dalam angan
Lalu, mana mungkin ku sia-sia kan?
                         
lama tawa ini membisu
yang mengerti jua kan ku nanti
Ternyata Tuhanku mendengarkan
Kau dikirim menemaniku dijalan ini          

Aku bersyukur kau disini, teman
Dengan masa yang singkat disini
Menjadi mutiara dalam endapan lumpur
Adalah kita.

jalan ini tak ringan, tak mudah
apalagi hanya seorang diriku
yang jauh dari kata shalihah
tapi sekali lagi, aku beruntung
ada kau disini
menggenggam tawa istiqomah,
merangkul cinta dalam dakwah
ternyata kau, sahabat dari Illahiku

Senin, 27 April 2015

Pacaran dalam Islam ??

Assalamualaykum warrahmatullahiwabarakatuh
Goedemorgen!!
Yakk, ketemu lagi dengan ane dan postingan yang ala kadarnya. Perlu diketahui, info kali ini adalah hasil rangkuman dari salah satu buku ustadz Felix Y. Siauw #UdahPutusinAja. dengan alasan ingin berbagi pemahaman dan Insya Allah bermanfaat untuk semua! karena sudah sepatutnya untuk kita saling mengingatkan bukan? cekidot^^

Sedikit bicara tentang cinta nih,, cinta memang sangat indah di usia remaja beranjak dewasa ini. terlebih karena itu adalah sebuah fitrah yang memang dianugrahkan kepada kita dari Nya. cinta kerap disempitkan dalam arti pacaran. tapi taukah, teman?
Islam agama kita dengan tegas mengharamkan adanya interaksi lelaki dan wanita yang bukan mahram tanpa ikatan yang halal. tentu interaksi yang tidak penting dan tidak syar’i. Secara langsung ataupun tak langsung (red:sms-an/telponan).
Karena Allah ingin melindungi dan menjaga kehormatan wanita. Islam tidak mengenal hubungan-hubungan pra-pernikahan semisal pacaran dan pertunangan yang hakikatnya akan merugikan pihak wanita maupun lelaki. Karna faktanya, hubungan ini bukan malah mengenalkan dua insan, tetapi merusak kedua insan. Ta’aruf maupun khitbah pun tidak diperkenankan jika dalam waktu yang lama.. Sebenarnya, aturan Islam terkait hal ini sangatlah sederhana :
1.    Bila cinta, datangi walinya dan menikahlah
2.    Bila belum siap, persiapkan diri dahulu dalam diam, dan perbanyaklah berpuasa sembari memperbaiki diri agar layak mendapat yang terbaik. Bicara cinta kepada lawan jenis memang menarik. Namun, mencintai dalam keheningan itu memiliki daya pikat tersendiri.

Pasangan yang baik akan datang dari awal yang baik. Tidak akan bertemu lelaki atau wanita yang baik agamanya dan saleh dalam ibadahnya dari jalan maksiat bernama pacaran. Maka dari itu, mulailah memahami arti cinta yang sesungguhnya. Bagi yang belum siap untuk menikah, limpahkan cintamu hanya kepada Allah dan Rasulnya. salurkan cinta yang ada kepada keluarga dan teman-teman yang mendukungmu kearah positif. Bukan cinta bila lebih mementingkan selain dari yang diperintahkan-Nya.  

Beberapa tips yang bisa membantu meminimalisir galau karena cinta :
     ü Dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang (QS.13:28)
Bahwa bila kita mencinta karena Allah itu berarti kita siap bersama dan siap pula berpisah karena Allah. Allah pasti selalu melimpahkan cinta dan kasih sayangNya. Jadi tak perlu khawatir dengan siapa kita nanti akan bersanding. Karena Dialah Allah Sang Penguasa Hati.
    ü  Gabungkan diri dalam perjuangan Islam
Mulai memahami Islam dan berjuanglah untuknya. Saat bergabung dengan orang-orang yang bersemangat dalam menegakkan agama Allah, insya Allah kita tak akan memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang belum sepantasnya, hal yang belum menjadi hak kita.
    ü  Banyak membaca perjuangan Islam
Dengan banyak membaca kisah-kisah Rasulullah, sahabat, dan panglima-panglima perang dapat kita resapi bagaimana mereka berjuang dijalan Allah. Rasakan heroisme, duplikasi, dan internalisasi sikap mental mereka. Membaca biografi tokoh-tokoh muslim akan banyak membantu membentuk mental anak muda.
    ü  Find your positive hobby!
Temukan sesuatu yang bisa kita banggakan dimasa depan dan bisa kita jadikan sebagai amal shaleh. Misalnya arahkan cinta untuk mengalun pujian-pujian kepada Nya lewat pena. Biar cinta jadikan lembaran-lembaran menarik yang  layak dibaca. Bicaralah cinta pada perjuangan dakwah menegakkan kehidupan islami.

Semua orang pasti ingin mendapatkan yang terbaik. Tetapi pantaskah seseorang meminta pasangan kepada Allah sedangkan hari-harinya masih disibukkan menghabiskan uang orang tua dan berfoya-foya? Pantaskah seseorang meminta pasangan kepada Allah selagi membaca Al-Qur’an saja masih sulit dan belum pantas menjadi imam shalat? Pantaskah seseorang meminta pasangan kepada Allah sementara masih sulit baginya menjalankan perintah Allah tuk berhijab dan menjaga kehormatan? Dan pantaskah seseorang meminta pasangan yang baik lagi faqih agama bila dicari dengan cara pacaran yang justru dilarang agama??

Pacaran adalah tanda miskinnya komitmen dan tanggung jawab. Mana mungkin rasa cinta sebagai anugerah disamakan dengan umbaran hawa nafsu lewat hubungan pacaran. Yang benar-benar menyayangi tidak mungkin membiarkan seseorang yang disayangi dan dirinya terjerumus pada hal-hal yang tidak diridhai Allah, yang mendekatkan pada api nerkaNya. Karena sesungguhnya pacaran tanda ketidak siapan yang hanya menciptakan galau dan kesedihan di usia muda penuh karya. lalu buat apa dilakukan?

Bagi mukmin, pacaran bukan tanda dewasa. Bagi mereka dewasa adalah berjuang dalam Islam. Rayuan para mukmin adalah ayat-ayat Al-Qur’an, gombal mereka adalah seruan taat kepada Allah, dan sabar adalah jalan yang harus dilalui. Bagi mereka, cinta berarti perlawanan, perjuangan dengan kata atau pena. jadi, pacaran dalam Islam itu ada, tapi setelah ada peristiwa sakral ijab dan qobul^^ Mari memantaskan diri, buktikan bahwa cinta kita hanya untuk-Nya.

Jumat, 20 Maret 2015

Surat UntukMu


Tuhan, aku mau cerita.
Sebelumnya akan kukatakan betapa cintanya aku padaMu
betapa aku merindukan pertemuan itu
Sampaikan shalawatku untuk Rasulullah terindu
Sampaikan pula salam ku untuk para sahabat, khalifah
yang tak pernah habis untuk ku kagumi

Tuhan,, taukah kau??
Malaikat yang kau kirim tuk menemaniku didunia ini
yang tak pernah berhenti mengarahkanku sampai seperti ini
ya mereka, yang kulihat begitu lelah kini
yang usahanya tak pernah henti
yang doa nya  bergema dalam hati

Tuhan, aku ingin tanya
Selain belajar yang gigih dan ibadah nan taat
Apalagi yang harus ku lakukan?
Untuk membantu dan membuatnya bangga juga bahagia
Selain menyusahkan dan merepotkannya
Apa lagi yang bisa ku lakukan?

Tuhan,  aku tau
Rasul memang tak pernah melihat jelas wajah ibu dan ayahnya
Rasul tak pernah sempat meminum asi dari ibunya
Seperti kami.
Rasul juga tak pernah sempat melihat kami
Umat yang begitu ingin berjumpa

Tuhan, Engkau dengan segala ke-Maha-an Mu
Dengan segala kekurangan ku ingin meminta, boleh??
Dengarkanlah suara hati itu
Lewat air yang menetes perlahan mengalir
Gemaan dari jiwa-jiwa yang mulai merenta
Permintaan dengan segala iba dan asa
Tanda ketidakdayaan yang tak berada
dihadapanMu

kami tak ingin berputus asa, tak ingin bersedih
kami tak ingin kufur akan nikmat, tak ingin lupa

Tuhan, kau tau??
Kesabaran, ketegaran, ketekunan dan
Syukur yang berlimpah masih bertahta dihati ini
Dan kekal jika Kau ingin

Kau tau??
Kami selalu menunggu
Ya, menunggu semua yang kataMu
Kan indah pada waktunya

Selasa, 10 Maret 2015

Pernah ada

Pernah ada masa-masa dalam cinta kita
Kita lekat bagai api dan kayu
Bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
Hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
Tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

Pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
Kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
Merasa menghias langit, menyuburkan bumi, dan melukis pelangi 
Namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

Disatu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
Mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan diatas iman
Bahkan saling nasehat pun tak lain bagai dua lilin
Saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api
  
Kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
Pada amal salih yang menjulang bercabang-cabang
Pada akhlak yang manis, lembut, dan wangi
Hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata  
Yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya  

#dalamdekapanukhuwah

Kamis, 19 Februari 2015

Cinta Penawar Luka, Abu Bakar Ash-Shiddiq



Bagaimana rasanya menjadi orang yang paling bisa mengerti sahabat tercinta?
Tentu indah. Kita yang menjadi pertama-tama menangkap kilasan cahaya gembiranya, lalu menjadikan hati kita lensa konkaf untuk menebarkannya. Atau kita juga segera menangkap tebaran masalah yang menggayuti benaknya, lalu menjadi lensa konveks untuk memberinya fokus dan orientasi. Dan dibalik lensa itu, kita juga yang pertama-tama akan menangkap bayangan nyata dari kesemuan-kesemuan tentangnya. Seringkali, itu membuat kita menangis terlebih dahulu. Bahkan menangis sendirian. Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah merasakannya.
            Ketika itu, Sang Nabi menerima wahyu. Wahyu yang sangat menggembirakan semua sahabat. Beliau membacakannya dari atas mimbar. “Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabb mu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Ia adalah Maha Penerima taubat” (Q.S. An-Nashr : 1-3).
            Semua sahabat tersenyum, lega, bahagia, dan penuh syukur. Tapi dari depan mimbar, Abu Bakar tiba-tiba berteriak dengan gemuruh isak, “Ya Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku!” Dan ia terus menangis. Para sahabat belum pernah heran akan Abu Bakar sedahsyat hari itu. Mereka menatap tajam ke arahnya dengan mulut yang tanpa disadari setengah terbuka. Tapi Rasulullah tersenyum padanya.
            “Seorang hamba diminta untuk memilih, antara perhiasan dunia  menurut kehendaknya, atau apa yang ada di sisi Allah. Dan dia memilih apa yang ada di sisi Allah.” Tangis Abu Bakar semakin keras, terdengar menggigil bagai burung dalam badai, menyesakkan. “Demi Allah ya Rasulullah, ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu!” ia kembali berteriak.  Hingga, kata perawi hadist ini, orang-orang bergumam dalam hati, “Lihatlah orangtua ini! Rasulullah mengabarkan tentang kemenangan dan seorang hamba yang diberi pilihan, tapi dia berteriak-teriak tak karuan!”
            Entah mengapa, hari itu kebeningan hanya milik Abu Bakar seorang. Ketika para sahabat bergembira mendengar sabda-sabda Sang Nabi, ia menangkap surah tersebut dan segala yang beliau katakan sebagai suatu isyarat pasti. Ajal Sang Nabi telah sangat dekat! Maka ia menangis. Maka ia berteriak. Hanya dia. Hanya dia yang mengerti.
            Rasulullah masih tersenyum. “Sesungguhnya orang yang paling banyak membela dan melindungiku dengan pergaulan dan hartanya adalah Abu Bakar,” kata beliau. “Andaikan aku boleh mengambil kekasih selain Rabb ku, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai Khaliil-ku. Tetapi ini adalah persaudaraan Islam dan kasih sayang. Semua pintu yang menuju ke masjid harus ditutup, kecuali pintunya Abu Bakar.”
            Maka inilah Abu Bakar. Seorang yang mata batinnya begitu jernih. Dia yang paling berduka, menangis, dan histeris ketika Sang Nabi memberi isyarat tentang dekatnya saat berpisah. Namun disaat kekasih yang dicintainya itu benar-benar pergi , Abu Bakar menjadi orang yang paling waras, paling tenang, dan paling menentramkan. Beliau mengingatkan tentang wahyu Allah pada Qur’an Surah Al-‘Imran:144. Abu Bakar, adalah lelaki yang memberikan cintanya sebagai penawar bagi luka umatNya. #DDU